EnglishFrenchGermanSpainItalianDutchRussianBrazilJapaneseKoreanArabicChinese Simplified

Monday, March 11, 2013

Permasalahan Cinta Dikalangan Remaja


Pembaca yang budiman, sekarang ada baiknya kita bicara lebih khusus tentang masalah cinta lawan jenis. Karena ternyata cinta jenis inilah yang seringkali membuat persoalan menjadi runyam. Cinta jenis ini pula yang sering mendorong orang untuk menjadi sosok pemabuk cinta, yang lupa diri dan tenggelam dalam ilusi cinta yang ia buat sendiri. Banyak peristiwa yang telah hadir di depan mata kita menunjukkan bahwa telah terjadi banyak persoalan yang terjadi karena cinta pada lawan jenis. Beberapa faktor penyebabnya antara lain: 

1. Terlau Belia Mengenal Cinta

Zaman yang luar biasa ini nampaknya mempercepat proses remaja mengenal cinta. Di usia mereka yang sangat belia, mereka sudah mulai merasakan ada perasaan lain dalam dirinya terhadap teman lawan jenisnya. Ada sebuah kisah lucu dari seorang anak berusia TK. Sebut saja namanya Bunga. Saat Bunga hendak diajak bersepeda bersama ayahnya ia menolak. Ketika ditanya kenapa dia menolak, ia berkata, “Aku nggak mau diboncengin Ayah. Nanti orang mengira aku istrinya Ayah.” Sontak semua orang tertawa. Tak ada yang menyangka kalimat itu keluar dari mulutnya yang mungil. Saya kemudian bertanya-tanya, “Kok anak sekecil itu bisa-bisanya berfikir semacam itu? Siapa yang mengajarinya? Atau apakah karena televisi yang menjadi guru besarnya?”

Di kota besar seperti Jakarta, seorang psikolog pernah bertutur betapa ana usia SD sudah berfikir tentang cinta dan seks. Hal ini ia ketahui saat mengadakan survey di beberapa SD di Jakarta. Mereka bahkan sudah bertanya apa alat kontrasepsi itu. Hemm, Astaghfirullah…! Fenomena yang terjadi menunjukkan usia mereka yang belia tidak mampu menandingi kedahsyatan cinta. Mereka belumlah cukup umur untuk mengelola cinta yang mereka miliki. Akhirnya yang terjadi adalah cerita pilu tentang pacaran yang salah jalan dan salah arah. (heart_beat) 



2. Tidak Bisa Membedakan Simpati, Naksir dan Cinta Sejati

Saat tertarik kepada seorang teman di usia belia, umumnya remaja tidak bisa membedakan antara ketiga hal itu. Mereka dilanda kebingungan “Apakah saya sedang jatuh cinta beneran, atau hanya sekedar naksir dan simpati saja?”. Lelaki dan perempuan memiliki tingkat ketertarikan yang berbeda. Lelaki biasanya tertarik pada aspek penampilan, seberapa tinggi kejelian matanya menilai seorang gadis. Sehingga bila ia tidak dibimbing hidayah, mungkin setiap kali ada perempuan cantik, ia akan selalu bilang “Kamu adalah cinta sejatiku.” Padahal boleh jadi itu hanya semata naksir saja dan tidak lebih dari itu. Ketika melihat seorang perempuan berkerudung dan terlihat mengenaskan, ia mungkin iba. Sehingga ia tertarik untuk menolongnya. Lagi-lagi ia merasa telah jatuh cinta pada gadis itu, Padahal boleh jadi itu hanyalah perasaan simpati saja.

Jadi ketiga hal ini sangat susah dibedakan. Perasaan simpati kadang diartikan naksir dan naksir kadang sudah diartikan sebagai cinta sejati. Lebih payah lagi bila seseorang mudah jatuh cinta. Setiap melihat wanita yang berbeda, ia akan simpati dan naksir padanya. Hal ini akan menjadi sebuh masalah jika ia tidak bisa mengendalikan diri dengan menahan pandangannya terhadp wanita. Simpati tidak menuntut komitmen, demikian pula naksir. Keduanya hampir mirip sifatnya. Beda halnya dengan jatuh cinta, karena jatuh cinta membutuhkan komitmen dan pengorbanan.

3. Tidak Bisa Mengukur Kadarnya

Sebagian besar para remaja merasa seperti berada di istana langit bila sudah jatuh cinta. Sepertinya hatinya ingin meledak karena bahagia. Bila tidak diwaspadai mereka akan dibutakan oleh cinta. Besarnya cinta yang mereka rasakan menghilangkan akal sehatnya. Pikirannya kacau, dan hatinya selalu gelisah. Mereka tidak bisa lagi membedakan apakah sebuah tindakan disebut konyol ataukah tidak hanya demi menyenangkan hati kekasihnya. Mereka juga tidak bisa lagi mengukur apakah tindakannya sudah masuk kategori berlebihan ataukah tidak. Maka tidaklah mengherankan bila seorang perempuan merelakan kegadisannya pada kekasihnya atas nama cinta. Na’udzubillah…

Seringkali logika dosa & tidak dosa sudah tidak menjadi pertimbangan dalam bertindak. Asalkan mereka suka, mereka akan melakukannya. Tidak ingat apa perintah Allah, tidak juga ingat apa larangan-Nya. Akal sehatnya telah tunduk pada rasa cinta yang telah menggelora.

4. Terlalu Naif dan Polos

Wajah imut para remaja belia ini seolah mencerminkan betapa lugu dan polosnya mereka. Cinta yang mereka rasakan seolah adalah cinta sepenuh hati dan sepenuh cinta yang akan mereka rasakan selamanya. Padahal boleh jadi teman yang menjadi kekasihnya hanya iseng belaka. Kekasihnya ternyata sama sekali tidak menganggap itu sebuah hubungan cinta, hanya main-main dan pengisi waktu luang saja. Seolah, sekali dia mengenal cinta, maka itu adalah hati yang paling tepat untuk berlabuh. Padahal usianya baru usia anak SMP. Lelaki yang pertama yang menyatakan suka padanya, memberi perhatian lebih dari lelaki lain, adalah lelaki yang tidak akan pernah ia lupakan. Lelaki itulah yang kemudian sangat ia taati dan ia kagumi. Mereka tidak sadar bahwa boleh jadi itu hanya perasaan emosi sesaat saja. Karena seiring usia mereka bertambah, pengetahuan mereka tentang dunia pergaulan juga akan semakin bertambah.

Kenaifan dan kepolosan mereka dikarenakan usia mereka yang masih labil. Mereka masih bingung dalam membuat keputusan dan seringkali gamang dalam menentukan pilihan tindakan. Toh, bilapun meeka sudah memilih, pilihan itu akan mudah goyah dan rapuh bila diterjang kritikan dan umpatan dari teman-temannya.

5. Lebih Didorong Nafsu, Bukan Cinta

Hubungan cinta diusia muda seperti orang yang haus bertemu dengan segelas air yang segar dan menyegarkan. Disaat remaja belia sedang mulai merintis libido, datanglah orang yang dicintai. Kontan saja hal ini bak orang yang sedang haus kemudian datang segelas air segar kepadanya. Sehingga tidaklah berlebihan jika disimpulkan ketertarikan antar lawan jenis saat itu lebih didasarkan pada aspek emosi sesaat dan bukan karena cinta. Pada persoalan ini, lelaki lebih mudah tertarik dengan tampilan fisik. Wajah yang manis, ayau dan mempesona selalu menjadi perhatian utama, apalagi bila perempuan itu memiliki tubuh yang semampai. Dan ironisnya, ketika dia sudah merasa jatuh cintapada seorang wanita, dengan mudahnya ia berpindah orang hanya karena orang itu lebih cantik dan lebih menarik. Oleh karena itu, remaja di usia ini jarang yang ditemukan setia dengan komitmennya. Karena mata mereka lebih liar daripada serigala di hutan. Mata yang selalu jelalatan memandang aurat yang diumbar di pasar dan jalan-jalan.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

fans page

Sudah Dilihat

Followers


Get this widget!